Analisis Perekonomian Daerah Kabupaten Blora
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kabupaten
Blora yang ber slogan “Blora Mustika”, secara geografis terletak di antara 1110
16’ s/d 1110 338’ Bujur Timur dan diantara 60 528’ s/d 70
248’ Lintang Selatan, jarak terjauh dari barat ke timur sepanjang 87 km dan
utara ke selatan sejauh 58 km. Secara administrasi Kabupaten Blora terletak di
ujung paling timur Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Blora dengan luas
182.058,797 Hektar terdiri atas lahan sawah sebesar 45.948,191 hektar (25,23
persen) dan sisanya lahan bukan sawah, sebesar 74,77 persen.
Menurut
luas penggunaan lahan, lahan terbesar adalah hutan sebesar 49,66 persen, lahan
sawah sebesar 25,23 persen dan tegalan sebesar 14,38 persen.
Menurut Kantor
Pertanahan, ketinggian tanah Kabupaten Blora berada pada 40 hingga 500 m
dpl. Banyaknya hari hujan selama tahun 2017 sama seperti tahun 2016 sebanyak
113 hari hujan.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Bagaimana gambaran dan geografis kota Blora ?
1.2.2
Berapa Pendapatan PDRB dan Pendapatan Perkapita ?
1.2.3
Bagaimana Perubahan Struktur Ekonomi Daerah?
1.2.4
Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi Daerah?
1.2.5
Bagaimana Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan?
1.2.6
Bagaimana Pembangunan Ekonomi Daerah?
1.2.7
Bagaimana Perkembangan Sektor pertanian
1.2.8
Bagaimana Permasalahan utama kondisi ekonomi daerah dan solusinya?
1.3 Tujuan
1.3.1
Mengetahui Bagaimana Gambaran dan Geografis
kota Blora
1.3.2
Mengetahui Berapa Pendapatan PDRB dan Pendapatan Perkapita
Kota Blora
1.3.3
Mengetahui Bagaimana Perubahan Struktur Ekonomi Daerah Blora
1.3.4
Mengetahui Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi Daerah Kota Blora
1.3.5
Mengetahui Bagaimana Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
Kota Blora
1.3.6
Mengetahui Bagaimana Pembangunan Ekonomi Daerah Kota Blora
1.3.7
Mengetahui Bagaimana Perkembangan Sektor pertanian Kota
Blora
1.3.8
Mengetahui Bagaimana Permasalahan utama kondisi ekonomi
daerah dan solusinya
1.4
Manfaat
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 GAMBARAN UMUM DAN GEOGRAFIS
Kabupaten
Blora yang ber slogan “Blora Mustika”, secara geografis terletak di antara 1110
16’ s/d 1110 338’ Bujur Timur dan diantara 60 528’ s/d 70
248’ Lintang Selatan, jarak terjauh dari barat ke timur sepanjang 87 km dan
utara ke selatan sejauh 58 km. Secara administrasi Kabupaten Blora terletak di
ujung paling timur Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Blora dengan luas
182.058,797 Hektar terdiri atas lahan sawah sebesar 45.948,191 hektar (25,23
persen) dan sisanya lahan bukan sawah, sebesar 74,77 persen. Menurut luas
penggunaan lahan, lahan terbesar adalah hutan sebesar 49,66 persen, lahan sawah
sebesar 25,23 persen dan tegalan sebesar 14,38 persen.
Menurut Kantor
Pertanahan, ketinggian tanah Kabupaten Blora berada pada 40 hingga 500 m
dpl. Banyaknya hari hujan selama tahun 2017 sama seperti tahun 2016 sebanyak
113 hari hujan. Sementara curah hujan selama tahun 2017 sedikit lebih rendah
dibanding tahu sebelumnya. Selama tahun 2017, curah hujan tertinggi di
Kecamatan Japah sebanyak 2.811 mm, untuk hari hujan terbanyak terdapat di
Kecamatan Kradenan sebanyak 165 hari.

PETA KABUPATEN BLORA

2.2
ANALISIS PDRB DAN PENDAPATAN PERKAPITA
TABEL 2. 1 Distribusi Persentase Produk Domestik
Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 di Kab.Blora, Tahun 2013 - 2017;
(2010=100,00) (Persen)
Kategori
|
Lapangan Usaha
|
2013
|
2014
|
2015
|
2016*
|
2017**
|
|
Category
|
Industrial
Origin
|
||||||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
(7)
|
|
A
|
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
|
29,93
|
27,84
|
28,28
|
24,51
|
23,33
|
|
B
|
Pertambangan dan Penggalian
|
13,80
|
14,67
|
14,06
|
23,31
|
24,12
|
|
C
|
Industri Pengolahan
|
10,27
|
11,28
|
10,83
|
9,67
|
9,80
|
|
D
|
Pengadaan Listrik dan Gas
|
0,07
|
0,07
|
0,07
|
0,06
|
0,06
|
|
E
|
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan
|
0,04
|
0,04
|
0,04
|
0,04
|
0,04
|
|
Daur Ulang
|
|||||||
F
|
Konstruksi
|
4,11
|
4,26
|
4,40
|
3,98
|
4,08
|
|
G
|
Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil
|
16,88
|
16,42
|
16,47
|
15,15
|
15,16
|
|
dan Sepeda Motor
|
|||||||
H
|
Transportasi dan Pergudangan
|
2,60
|
2,75
|
2,86
|
2,56
|
2,61
|
|
I
|
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
|
3,30
|
3,41
|
3,52
|
3,21
|
3,24
|
|
J
|
Informasi dan Komunikasi
|
1,13
|
1,10
|
1,09
|
0,96
|
0,97
|
|
K
|
Jasa Keuangan dan Asuransi
|
3,20
|
3,19
|
3,30
|
3,00
|
3,04
|
|
L
|
Real Estate
|
1,32
|
1,37
|
1,40
|
1,23
|
1,22
|
|
M,N
|
Jasa Perusahaan
|
0,29
|
0,29
|
0,31
|
0,28
|
0,28
|
|
O
|
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
dan
|
||||||
Jaminan Sosial Wajib
|
3,90
|
3,76
|
3,83
|
3,42
|
3,30
|
||
P
|
Jasa Pendidikan
|
6,18
|
6,43
|
6,37
|
5,76
|
5,86
|
|
Q
|
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
|
0,90
|
0,95
|
0,99
|
0,87
|
0,87
|
|
R,S,T,U
|
Jasa lainnya
|
2,07
|
2,15
|
2,17
|
2,00
|
2,03
|
|
PDRB Dengan Minyak Bumi
|
100,00
|
100,00
|
100,00
|
100,00
|
100,00
|
||
PDRB Tanpa Minyak Bumi
|
86,80
|
86,24
|
87,63
|
78,25
|
77,45
|
||
Sumber/Source : BPS Kab. Blora
|
Ket : *) Angka Sementara; **) Angka
Sangat Sementara
|
||||||
TABEL
2.2 PDRB Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan 2010 di
Kabupaten Blora, Tahun 2013 - 2017
A. Atas Dasar Harga Berlaku
|
||||||
1.
|
PDRB Kabupaten Blora (Juta Rupiah)
|
|||||
Dengan Minyak
|
13.543.661,54
|
15.101.975,26
|
16.368.347,06
|
19.993.674,30
|
21.797.101,52
|
|
Tanpa Minyak
|
11.756.251,71
|
13.023.829,11
|
14.343.891,36
|
15.644.512,03
|
16.881.311,05
|
|
2.
|
Jumlah Penduduk
|
|||||
Tengah Tahun (Jiwa)
|
842.325
|
846.407
|
850.229
|
854.068
|
862.301,00
|
|
3.
|
PDRB Perkapita
(Rupiah)
|
|||||
Dengan Minyak
|
16.078.902,50
|
17.842.461,35
|
19.251.692,26
|
23.409.932,58
|
25.277.833,98
|
|
Tanpa Minyak
|
13.956.907,03
|
15.387.203,56
|
16.870.621,17
|
18.317.642,20
|
19.577.051,46
|
|
B. Atas Dasar Harga Konstan
|
||||||
1.
|
PDRB Kabupaten Blora (Juta Rupiah)
|
|||||
Dengan Minyak
|
11.712.504,85
|
12.227.201,29
|
12.882.587,70
|
15.913.432,03
|
16.843.360,54
|
|
Tanpa Minyak
|
10.093.016,31
|
10.516.216,81
|
11.050.744,30
|
11.685.075,51
|
12.278.655,67
|
|
2.
|
Jumlah Penduduk
|
|||||
Tengah Tahun (Jiwa)
|
842.325
|
846.407
|
850.229
|
854.068
|
862.301,00
|
|
3.
|
PDRB Perkapita
(Rupiah)
|
|||||
Dengan Minyak
|
13.904.971,19
|
14.446.015,34
|
15.151.903,43
|
18.632.511,74
|
19.533.040,71
|
|
Tanpa Minyak
|
11.982.330,23
|
12.424.546,38
|
12.997.374,00
|
13.681.668,81
|
14.239.407,90
|
|
Sumber/Source : BPS Kab. Bl Ket : *) Angka Sementara; **) Angka Sangat Sementara
TABEL
2. 3 PDRB Atas Dasar Harga
Berlaku dan Konstan 2010 di Kabupaten Blora Tahun 2013 - 2017 (Miliar Rupiah)

25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
2013
|
2014
|
2015
|
2016
|
2017
|
|||
adh
Berlaku
|
adh
Konstan
|
||||||
0
Sumber/Source : BPS
Kab. Blora
ANALISIS
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora
pada tahun 2017 yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga
konstan 2010 tercatat sebesar 5,84 persen. Pada tahun 2017, sektor jasa lainnya
mengalami pertumbuhan yang paling tinggi disusul sektor konstruksi dan sektor
pertambagan dan penggalian. Secara umum, ekonomi Kabupaten Blora masih didominasi
oleh dua sektor utama, yaitu sektor pertambangan dan penggalian dan sektor
pertanian dengan besar sumbangan terhadap PDRB masing-masing sebesar 24,12 persen
dan 23,33 persen.
Pendapatan
per Kapita Blora
Meski
belum mencerminkan tingkat
pemerataan, pendapatan perkapita dapat dijadikan salah satu indikator guna
melihat keberhasilan pembangunan perekonomian di suatu wilayah. Perkembangan pendapatan perkapita di Kabupaten
Blora atas dasar harga berlaku, menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke
tahun. Pada tahun 2016 pendapatan per kapita masih mencapai angka sebesar 23,41
juta rupiah, tahun 2017 menjadi 25,28 juta rupiah atau naik sebesar 8 persen.
2.3 ANALISIS PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI DAERAH
Dari tabel PDRB yang ada diatas dapat dilihat bahwa masing-masing sektor
dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang cukup signifikan dari data tahun
2013 – 2017 terlihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian selalu mengalami
peningkatan sehingga bisa dikatakan bahwa sektor ini selalu positif dan bisa
untuk lebih dimajukan untuk kedepannya. Dan dari tabel diatas juga dapat
disimpulkan bahwa sektor pertanian yang notabennya mencakup tentang peternakan,
perikanan, perkebunan dan juga kehutanan cukup mengalami penurunan tiap
tahunnya meskipun pada tahun 2016 dan tahun 2017 masih data sementara yang
belum dikonversikan seluruhnya. Sektor ini juga harus mendapatkan perhatian
khusus tentunya bagi pemerintahan daerah Kabupaten Blora.
Sektor pertanian bisa juga disebut sektor yang bisa dikembangkan oleh
semua daerah-daerah lain meskipun tidak terlalu mempunya SDA yang mumpuni.
Meskipun sektor ini yang paling bisa dikembangkan oleh daerah-daerah lain,
namun sektor ini bisa menjadi sektor yang paling memberikan pendapatan yang
besar karena terdiri dari banyak sektor seperti perkebunan,perikanan,kehutanan,
dan peternakan.
Namun dari
data di atas bisa dilihat bahwa sektor jasa
perusahaan adalah sektor yang cukup stabil dalam mempertahankan pendapatannya
dari tahun ke tahun. Dengan hal yang cukup positif ini pemerintah bisa
memaksimalkan jasa perusahaan sehingga bisa lebih meningkat bukan malah menurun
tiap tahunnnya.
2.4 ANALISIS PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
TABEL 2.4 Jumlah Penduduk Kabupaten Blora
Rasio
|
||||
Tahun
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
Jenis
Kelamin
|
Year
|
Male
|
Female
|
Total
|
Sex Ratio
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(4)
|
1998
|
403.477
|
412.750
|
816.227
|
97,75
|
1999
|
405.866
|
416.362
|
822.228
|
97,48
|
2000
|
407.921
|
418.308
|
826.229
|
97,52
|
2001
|
409.794
|
419.771
|
829.565
|
97,62
|
2002
|
411.656
|
421.910
|
833.566
|
97,57
|
2003
|
412.783
|
423.225
|
836.008
|
97,53
|
2004
|
414.029
|
424.563
|
838.592
|
97,52
|
2005
|
416.209
|
426.465
|
842.674
|
97,60
|
2006
|
416.900
|
427.590
|
844.490
|
97,50
|
2007
|
417.798
|
428.512
|
846.310
|
97,50
|
2008
|
423.181
|
429.982
|
853.163
|
98,42
|
2009
|
425.967
|
432.907
|
858.874
|
98,40
|
2010
|
409.170
|
420.558
|
829.728
|
97,29
|
2011
|
411.400
|
424.380
|
835.780
|
96,94
|
2012
|
413.587
|
426.619
|
840.206
|
96,95
|
2013
|
415.696
|
428.748
|
844.444
|
96,96
|
2014
|
417.582
|
430.787
|
848.369
|
96,93
|
2015
|
419.401
|
432.687
|
852.088
|
96,93
|
2016
|
421.108
|
434.465
|
855.573
|
96,93
|
2017
|
422.699
|
436.166
|
858.865
|
96,91
|
Sumber/Source : BPS Kab. Blora
Penduduk
Jumlah penduduk
Kabupaten Blora pada tahun 2017 sebesar 858.865 jiwa, dengan seks rasio
96,91 persen, artinya penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk
laki-laki. Tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Blora tahun 2017 rata-rata
adalah 472 jiwa per km2. Dan kepadatan penduduk paling tinggi
terjadi pada tahun 2006 dengan 858.874dengan sex ratio sebesar 98.40. dan
kepadatan penduduk paling rendah terjadi pada tahun 1998 sebesar 816.227 dengan sex ratio sebesar 97.75.
TABEL
2.5 Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan
(Penduduk/Km2) di Kabupaten Blora, Tahun 2013 - 2017
Kecamatan
|
2013
|
2014
|
2015
|
2016
|
2017
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
Jati
|
249
|
250
|
251
|
252
|
253
|
Randublatung
|
356
|
357
|
358
|
360
|
361
|
Kradenan
|
360
|
361
|
363
|
364
|
366
|
Kedungtuban
|
516
|
518
|
520
|
522
|
524
|
Cepu
|
1.487
|
1.492
|
1.497
|
1.503
|
1.508
|
Sambong
|
285
|
286
|
287
|
288
|
289
|
Jiken
|
228
|
229
|
231
|
232
|
232
|
Bogorejo
|
480
|
481
|
483
|
485
|
487
|
Jepon
|
561
|
564
|
568
|
571
|
573
|
Kota Blora
|
1.163
|
1.170
|
1.177
|
1.182
|
1.186
|
Banjarejo
|
559
|
562
|
564
|
566
|
569
|
Tunjungan
|
451
|
454
|
457
|
459
|
461
|
Japah
|
329
|
331
|
333
|
334
|
335
|
Ngawen
|
563
|
566
|
568
|
570
|
572
|
Kunduran
|
492
|
494
|
496
|
498
|
500
|
Todanan
|
449
|
450
|
451
|
453
|
455
|
Sumber/Source : Dinas
Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kab. Blora
TABEL 2.6 Banyaknya Penduduk Menurut Kelompok
Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Blora, Tahun 2017
Kelompok
Umur
|
Laki –
laki
|
Perempuan
|
Jumlah
|
0 – 4
|
31.630
|
29.523
|
61.153
|
5 – 9
|
33.938
|
32.098
|
66.036
|
10 – 14
|
33.283
|
31 680
|
64.963
|
15 – 19
|
32.175
|
29.877
|
62.052
|
20 – 24
|
29.671
|
30.081
|
59.752
|
25 – 29
|
28.335
|
30.006
|
58.341
|
30 – 34
|
29.638
|
31.286
|
60.924
|
35 – 39
|
30.646
|
32.408
|
63.054
|
40 – 44
|
30.816
|
32.827
|
63.643
|
45 – 49
|
31.816
|
33.501
|
65.317
|
50 – 54
|
29.753
|
31.210
|
60.963
|
55 – 59
|
26.706
|
26.625
|
53.331
|
60 – 64
|
19.243
|
18.358
|
37.601
|
65 – 69
|
12.530
|
14.032
|
26.562
|
70 – 74
|
9.408
|
12.245
|
21.653
|
75 +
|
13.111
|
20.409
|
33.520
|
Sumber/Source : Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kab. Blora
Penduduk
Menurut
data diatas tentang kepadatan penduduk di Blora pada tahun 2013-2017 yang
dibagi dalam kecamatan-kecamatan yang ada. Selama lima tahun terakhir Kecamatan
Cepu menjadi kecamatan paling padat diantara kecamatan yang lainnya yang ada di
Kabupaten Blora. Dan selama lima tahun terakhir kecamatan yang paling rendah
tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Jiken .
TABEL 2.7 Piramida Penduduk Kabupaten Blora, Tahun 2017

75+
70 – 74
65 - 69
60 - 64
55 - 59
50 - 54
45 - 49
40 - 44
35 - 39
30 - 34
25 - 29
20 - 24
15 - 19
10 - 14
5 - 9
0 - 4
40.000 20.000 0 20.000 40.000
Laki-Laki Perempuan
2.5 ANALISIS DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN
(TERMASUK KETIMPANGAN ANTAR KECAMATAN)
Masalah besar yang dihadapi negara Indonesia saat
ini salah satunya adalah disparitas
(ketimpangan) pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi
pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari
munculnya masalah kemiskinan. Ketimpangan Pendapatan dan kemiskinan dirasakan
oleh banyak kota-kota yang ada di Indonesia karena Indonesia sendiri mempunyai
tingkat kemiskinan yang termasuk tinggi di dunia. Salah satu kota yang mengalami
ketimpangan pendapatan dan kemiskinan di Indonesia adalah Blora, berikut adalah
pembahasannya.
TABEL 2.8 Jumlah Rumah Tangga Sasaran PPLS 2011 Menurut Klasifikasi Kemiskinan di
Kabupaten Blora
Kategori
|
||||||
Kecamatan
|
Sangat
|
Miskin
|
Hampir
|
Rentan
|
Jumlah
|
|
District
|
Miskin
|
Miskin
|
Miskin
|
Total
|
||
Lainnya
|
||||||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
||
1.
|
Jati
|
544
|
760
|
1.620
|
2.820
|
5.744
|
2.
|
Randublatung
|
1.389
|
1.682
|
3.551
|
5.527
|
12.149
|
3.
|
Kradenan
|
811
|
1.134
|
2 734
|
4.870
|
9.549
|
4.
|
Kedungtuban
|
983
|
1.224
|
2.755
|
4.438
|
9.400
|
5.
|
Cepu
|
678
|
693
|
1.515
|
5.032
|
7.918
|
6.
|
Sambong
|
359
|
369
|
1.076
|
2.158
|
3.962
|
7.
|
Jiken
|
410
|
487
|
1.185
|
1.673
|
3.755
|
8.
|
Bogorejo
|
435
|
691
|
1.446
|
1.981
|
4.553
|
9.
|
Jepon
|
858
|
824
|
1.321
|
1.373
|
4.376
|
10.
Kota Blora
|
809
|
862
|
1.877
|
4.310
|
7.858
|
|
11.
Banjarejo
|
1.601
|
1.815
|
3.593
|
4.504
|
11.513
|
|
12.
Tunjungan
|
1.172
|
1.029
|
1.986
|
2.219
|
6.406
|
|
13.
Japah
|
608
|
855
|
1.605
|
1.700
|
4.768
|
|
14.
Ngawen
|
1.232
|
1.256
|
2.280
|
3.148
|
7.916
|
|
15.
Kunduran
|
1.154
|
1.330
|
2.415
|
2.484
|
7.383
|
|
16.
Todanan
|
962
|
1.506
|
3.410
|
5.287
|
11.165
|
|
Jumlah/Total 14.005 16.517 34.369 53.524 118.415
Sumber/Source : BPS Kab. Blora
Pada tahun 2011 jumlah rumah tangga yang menjadi sasaran PPLS
2011 menurut klasifikasi kemiskinan di Kabupaten Blora ada 118.415 rumah tangga
dengan yang tertinggi ada di kecamatan RanduBlatung
dengan jumlah 12.149
tangga dan dengan jumlah terendah ada di kecamatan Jiken dengan jumlah 3.755
rumah tangga.
Tahun
|
Jumlah Penduduk Miskin (Ribuan)
|
Persentase Penduduk Miskin
|
2002
|
218,40
|
26,58
|
2003
|
193,30
|
23,38
|
2004
|
191,20
|
22,97
|
2005
|
177,10
|
21,73
|
2006
|
197,60
|
23,95
|
2007
|
176,80
|
21,46
|
2008
|
155,06
|
18,79
|
2010
|
145,95
|
16,27
|
2011
|
134,90
|
16,24
|
2012
|
124,80
|
15,10
|
2013
|
123,80
|
14,64
|
2014
|
115,98
|
13,66
|
2015
|
115,00
|
13,52
|
2016
|
113,90
|
13,33
|
2017
|
111,90
|
13,04
|
TABEL 2.9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Di Kabupaten Blora Tahun 2002 s/d
2017 (Hasil SUSENAS)
Sumber/Source : BPS Kab. Blora
Menurut hasil SUSENAS pada tahun 2002 - 2017 tentang jumlah
penduduk Miskin di Kabupaten Blora, jumlah terbesar terjadi pada tahun 2002
dengan jumlah penduduk miskin sebesar 218,40 (dalam ribuan) dengan presentase
sebesar 26.58. Hal ini dikarenakan pada tahun 2002 kurang gencar dalam
memerangi kemiskinan tidak seperti pada tahun akhir-akhir ini yang sedang
gencar-gencarnya. Dan presentase terendah pada tahun 2017 dengan jumlah sebesar
111,90 (dalam ribuan) dengan presentase sebesar
13,04.
2.6 ANALISIS PEMBANGUNAN EKONOMI
DAERAH
Berdasarkan data dari Kemenrian Koperasi dan UMKM
pada tahun 2014, terdapat sekitar 57,8 juta pelaku UMKM di Indonesia pada tahun
2017 dan beberapa tahun kedepan diperkirakan bahwa jumlah pelaku UMKM akan
terus bertambah. UMKM memiliki peran penting dan strategis dalam perkembangan
ekonomi nasional. Sebagai tambahan dalam perannya dalam perkembangan ekonomi
dan ketengakerjaan, UMKM juga berperan dalam perkembangan distribusi hasil.
Sejauh ini, UMKM telah berkontribusi sebanyak 57,60% Produk Domestik Bruto (PBD)
dan mempunyai tingkat penyerapan tenaga kerja sekitar 97% dari seluruh tenaga
kerja nasional (Profil Bisnis UMKM oleh LPPI dan BI, 2015). UKM juga telah
terbukti tidak terpengaruh oleh krisis. Ketika krisis yang melanda pada periode
1997-1998, hanya UMKM yang dapat kuat bertahan. Data dari Badan Pusat Statistik
menunjukan bahwa setelah krisis ekonomi 1997-1998 jumlah UMKM tidak berkurang,
UMKM bertambah, bahkan menyerap 85 juta hingga 107 juta pekerja hingga tahun
2012. Pada tahun itu, jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56,539,560 unit.
Dari jumlah ini, UMKM menduduki jumlah 56,534,592
unit atau sebanyak 99,99%, selebihnya sekitar 0,01% atau 4.968 unit adalah
pengusaha besar. Contoh dari kebijakan UMKM di pemerintahan kabupaten Blora
terkair dengan peran dari UMKM terhadap pembangunan, secara khususnya di
Kabupaten Blora sendiri. Pemerintah pusat, provinsi hingga tingkat
kabupaten/kotamadya diperlukan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui
berbagai usaha dan inovasi. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, terdapat
beberapa langkah dan proses yang harus dilewati. Sehingga dibutuhkan keseriusan
seluruh pihak yang terkait dan ikatan kerjasama antar daerah. Aplikasi
populisme ekonomi dalam upaya untuk merealisasikan pembangunan dan
kesejahteraan dari masyarakat. Bentuk nyata dari populisme ekonomi adalah dalam
bentuk dukungan kepada UMKM, sehingga produksi UMKM tidak hanya dipasarkan di
pasar lokal namun juga merambah ke pasar yang lebih luas. Selain itu, jika
didukung oleh penggunakan informasi teknologi, pemasaran produk tidak lagi
terhambat oleh waktu dan tempat
2.7 ANALISIS PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN
Indonesia dikenal sebagai negara
agraris yang berarti Negara yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai
sumber mata pencaharian maupun sebagai penopang pembangunan.Sektor pertanian
meliputi subsektor tanaman bahan makanan, subsektor holtikultura, subsektor
perikanan, subsector peternakan, dan subsektor kehutanan. Pertanian merupakan
salah satu sektor yang sangat dominan dalam pendapatan masyarakat di Indonesia
karena mayoritas penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Namun, pembangunan
tidak sekedar ditunjukkan oleh prestasi pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh
suatu negara akan tetapi lebih dari itu pembangunan mempunyai perspektif yang
lebih luas. Dimensi sosial yang sering diabaikan dalam pendekatan pertumbuhan
ekonomi justru mendapat tempat yang strategis dalam pembangunan.
Pembangunan pertanian di Indonesia
dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Beberapa hal yang mendasari
pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain;
potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan
nasional yang cukup besar, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya
penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam
penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi
pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian
besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin.Hal ini
mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan
petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.
TABEL 2.10 Luas Panen dan Produksi Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Blora, Tahun
2017
Kecamatan
|
Luas
|
Produksi
|
Rata2
|
Luas
|
Produksi
|
Rata2
|
District
|
Panen
|
Produksi
|
Panen
|
Produksi
|
||
(Ha)
|
(Ton)
|
(Kw/Ha)
|
(Ha)
|
(Ton)
|
(Kw/Ha)
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
(7)
|
Jati
|
5.050
|
26.503
|
52,48
|
1 036
|
4.810
|
46,43
|
Randublatung
|
6.229
|
35.003
|
56,19
|
.
|
10.320
|
46,93
|
2.199
|
||||||
Kradenan
|
5.774
|
34.577
|
59,88
|
732
|
3.299
|
45,07
|
Kedungtuban
|
12.734
|
75.938
|
59,63
|
1.260
|
6.140
|
48,73
|
Cepu
|
4.974
|
29.342
|
58,99
|
1.967
|
9.640
|
49,01
|
Sambong
|
1.758
|
9.376
|
53,33
|
634
|
2.850
|
44,96
|
Jiken
|
1.972
|
10.386
|
52,67
|
182
|
827
|
45,44
|
Bogorejo
|
2.277
|
12.395
|
54,44
|
995
|
4.374
|
43,96
|
Jepon
|
3.610
|
19.999
|
55,40
|
1.151
|
5.147
|
44,71
|
Kota Blora
|
5.434
|
31.706
|
58,35
|
998
|
4.715
|
47,25
|
Banjarejo
|
5.017
|
28.267
|
56,34
|
1.229
|
5.585
|
45,44
|
Tunjungan
|
6.205
|
33.434
|
53,88
|
1.402
|
6.103
|
43,53
|
Japah
|
3.990
|
21.131
|
52,96
|
653
|
3.176
|
48,64
|
Ngawen
|
7.394
|
41.106
|
55,59
|
2.527
|
11.341
|
44,88
|
Kunduran
|
10.655
|
61.459
|
57,68
|
2.171
|
10.114
|
46,59
|
Todanan
|
6.134
|
34.089
|
55,57
|
1.684
|
7.167
|
42,56
|
Jumlah
2017
|
89.207
|
504.711
|
56,58
|
20.820
|
95.608
|
45,92
|
2016
|
83.739
|
474.886
|
55,83
|
14.388
|
57.869
|
39,95
|
2015
|
80.877
|
403.067
|
49,84
|
10.470
|
35.724
|
34,12
|
Padi sawah merupakan komoditas unggulan tanaman pangan di Kabupaten
Blora. Di tahun 2017 produksi padi sekitar 504,711 ribu ton, naik 12,68 persen dibanding tahun
sebelumnya. Untuk tanaman palawija,
produksi jagung mengalami penurunan sebesar 0,84 persen, berbanding lurus
dengan luas panen yang mengalami penurunan 4,64 persen.
SEKTOR PETERNAKAN
Tabel
2.11 Banyaknya Ternak Besar Menurut Kecamatan di
Kabupaten Blora, Tahun 2016
Kecamatan
|
Sapi/Cow
|
Kerbau
|
Kuda
|
||
District
|
Perah
|
Potong
|
Buffalo
|
Horse
|
|
Milk Cow
|
Cow
|
||||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
|
1.
|
Jati
|
0
|
13.471
|
417
|
7
|
2.
|
Randublatung
|
0
|
20 171
|
234
|
4
|
3.
|
Kradenan
|
0
|
.
|
8
|
0
|
8.986
|
|||||
4.
|
Kedungtuban
|
0
|
10.661
|
12
|
5
|
5.
|
Cepu
|
0
|
6.381
|
11
|
9
|
6.
|
Sambong
|
0
|
11.083
|
577
|
0
|
7.
|
Jiken
|
0
|
14.037
|
5
|
2
|
8.
|
Bogorejo
|
0
|
8.053
|
8
|
0
|
9.
|
Jepon
|
0
|
16.918
|
16
|
8
|
10.
Kota Blora
|
19
|
9.975
|
37
|
2
|
|
11.
Banjarejo
|
0
|
14.805
|
5
|
0
|
|
12.
Tunjungan
|
0
|
14.569
|
10
|
0
|
|
13.
Japah
|
0
|
16.356
|
29
|
0
|
|
14.
Ngawen
|
9
|
16.888
|
42
|
34
|
|
15.
Kunduran
|
0
|
17.967
|
0
|
0
|
|
16.
Todanan
|
0
|
22.397
|
117
|
6
|
|
Jumlah 2016
|
28
|
222.718
|
1.528
|
77
|
|
2015
|
32
|
211.559
|
1.598
|
87
|
|
2014
|
37
|
199.584
|
1.694
|
73
|
|
TABEL2.12 Banyaknya Ternak Kecil Menurut Kecamatan di
Kabupaten Blora, Tahun 2016
Kecamatan
|
Kambing
|
Domba
|
Babi
|
Kelinci
|
|
District
|
Goat
|
Sheep
|
Pig
|
Rabbit
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
|
Jati
|
15.797
|
1.898
|
0
|
524
|
|
Randublatung
|
17.025
|
2.171
|
0
|
857
|
|
Kradenan
|
7.662
|
1.585
|
0
|
457
|
|
Kedungtuban
|
4.242
|
2.809
|
0
|
1.585
|
|
Cepu
|
1.316
|
1.120
|
0
|
241
|
|
Sambong
|
7.970
|
2.336
|
0
|
628
|
|
Jiken
|
3.149
|
213
|
0
|
425
|
|
Bogorejo
|
5.269
|
104
|
0
|
571
|
|
Jepon
|
8.925
|
767
|
17
|
38
|
|
Kota Blora
|
4.552
|
772
|
0
|
728
|
|
Banjarejo
|
3.792
|
244
|
0
|
385
|
|
Tunjungan
|
2.515
|
1.270
|
0
|
524
|
|
Japah
|
7.725
|
411
|
0
|
725
|
|
Ngawen
|
10.267
|
438
|
0
|
425
|
|
Kunduran
|
9.284
|
294
|
0
|
0
|
|
Todanan
|
20.983
|
686
|
0
|
259
|
|
Jumlah
2016
|
130.473
|
17.118
|
17
|
8.372
|
|
2015
|
129.812
|
16.619
|
36
|
11.124
|
|
2014
|
112.650
|
17.638
|
45
|
11.151
|
|
Sumber/Source : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blora
Ada tiga jenis ternak yang diusahakan di Kabupaten Blora adalah
ternak besar, ternak kecil dan unggas. Sapi potong merupakan jenis ternak besar
terbanyak di Kabupaten Blora yang tercatat sebanyak 222.718 ekor.
SEKTOR PERIKANAN
TABEL 2.13 Luas dan Produksi Ikan Hasil Budidaya Sawah
|
||||||||||||
Menurut Kecamatan di Kabupaten Blora, Tahun 2016
|
||||||||||||
Sawah
|
Kolam
|
|||||||||||
Kecamatan
|
Luas
|
Produksi
|
Luas
|
Produksi
|
||||||||
District
|
Area
|
Panen
|
||||||||||
(Ha)
|
(Kg)
|
(Ha)
|
(Kg)
|
|||||||||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
||||||||
1.
|
Jati
|
0,01
|
690
|
|||||||||
2.
|
Randublatung
|
0,02
|
3,760
|
|||||||||
3.
|
Kradenan
|
0,15
|
44.550
|
|||||||||
4.
|
Kedungtuban
|
0,11
|
33.180
|
|||||||||
5.
|
Cepu
|
0,20
|
89.865
|
|||||||||
6.
|
Sambong
|
0,14
|
41430
|
|||||||||
7.
|
Jiken
|
0,01
|
2.880
|
|||||||||
8.
|
Bogorejo
|
0,02
|
3.680
|
|||||||||
9.
|
Jepon
|
0,08
|
34.650
|
|||||||||
10.
Kota Blora
|
0,13
|
58.635
|
||||||||||
11.
Banjarejo
|
0,11
|
33.300
|
||||||||||
12.
Tunjungan
|
0,03
|
5.820
|
||||||||||
13.
Japah
|
0,03
|
5.580
|
||||||||||
14. Ngawen
|
0,04
|
8.320
|
||||||||||
15.
Kunduran
|
0,01
|
160
|
||||||||||
16.
Todanan
|
0,05
|
10.960
|
||||||||||
Jumlah 2016
|
0
|
0
|
1,14
|
377,460
|
||||||||
2015
|
0
|
0
|
4,20
|
351.353
|
||||||||
2014
|
0
|
0
|
3,08
|
308.730
|
||||||||
Sumber/Source : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blora
Tabel 2.14 Luas dan
Produksi Ikan Hasil Budidaya Perairan Umum
Table Menurut Kecamatan di Kabupaten Blora, Tahun 2016
Harvested Area and Production of Open
Water Fishery by District in Blora Regency, 2016
Sungai
|
Waduk
|
Cek Dam dan Embung
|
|||||
Kecamatan
|
Luas
|
Produksi
|
Luas
|
Produksi
|
Luas
|
Produksi
|
|
District
|
Panen
|
Panen
|
Panen
|
||||
(Ha)
|
(Kg)
|
(Ha)
|
(Kg)
|
(Ha)
|
(Kg)
|
||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)
|
(7)
|
|
1.
|
Jati
|
8
|
3.139
|
0
|
0
|
0,48
|
1.666
|
2.
|
Randublatung
|
11
|
4.317
|
0
|
0
|
1,23
|
4.269
|
3.
|
Kradenan
|
465
|
182.476
|
0
|
0
|
0,82
|
2.846
|
4.
|
Kedungtuban
|
115
|
45.128
|
0
|
0
|
1,05
|
3.645
|
5.
|
Cepu
|
305
|
119.688
|
0
|
0
|
1,68
|
5.831
|
6.
|
Sambong
|
8
|
3.139
|
0
|
0
|
0,79
|
2.742
|
7.
|
Jiken
|
5
|
1.962
|
0
|
0
|
0,13
|
451
|
8.
|
Bogorejo
|
6
|
2.355
|
0
|
0
|
0,73
|
2.534
|
9.
|
Jepon
|
10
|
3.924
|
0
|
0
|
0,95
|
3.298
|
10.
Kota Blora
|
25
|
9.811
|
30
|
86.602
|
2,68
|
9.303
|
|
11.
Banjarejo
|
12
|
4.709
|
0
|
0
|
1,34
|
4.651
|
|
12.
Tunjungan
|
5
|
1.962
|
49,1
|
141.738
|
2,14
|
7.428
|
|
13.
Japah
|
3
|
1.177
|
0
|
0
|
1,22
|
4,234,72
|
|
14.
Ngawen
|
9
|
3.532
|
0
|
0
|
1,77
|
6.144
|
|
15.
Kunduran
|
25
|
9.811
|
0
|
0
|
1,66
|
5.762
|
|
16.
Todanan
|
25
|
9.811
|
0
|
0
|
2,60
|
9.025
|
|
Jumlah 2016
|
1.037
|
406.941
|
79
|
228.340
|
21,27
|
69.595
|
|
2015
|
1.037
|
277.100
|
79
|
134.570
|
21,27
|
73.829
|
|
2014
|
1.037
|
232.820
|
79
|
26.500
|
21,27
|
23.831
|
|
Sumber/Source : Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blora
Sub sektor perikanan, meliputi kegiatan usaha perikanan darat yang
terdiri dari usaha budidaya sawah, kolam dan perairan umum (sungai, waduk dan
cekdam). Produksi perikanan yang ada didominasi oleh perikanan umum sebesar
406.941 ton berasal dari sungai.
SEKTOR KEHUTANAN
Produksi Kayu Menurut Wilayah Pemangkuan dan Jenisnya Kabupaten Blora,
Tahun 2017
Tabel 2.15
Jati
|
Kayu
|
|||
Lokasi
|
Bundar
|
Kayu Rimba
|
Bakar
|
|
Location the Timber
|
Teakwood
|
Non Teak
|
||
(M3)
|
(M3)
|
(M3)
|
||
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
|
KPH
Randublatung
|
||||
1.
|
Randublatung
|
10.210,788
|
35,186
|
0,000
|
2.
|
Jati
|
13.680,273
|
884,936
|
0,000
|
3.
|
Kunduran
|
0,000
|
0,000
|
0,000
|
4.
|
Jepon
|
131,925
|
0,000
|
0,000
|
5.
|
Banjarejo
|
2.189,357
|
97,530
|
0,000
|
6.
|
Kradenan
|
0,000
|
0,000
|
0,000
|
Jumlah 2017
|
26.212,343
|
1.017,652
|
0,000
|
2016
|
26.379,017
|
982,466
|
0,000
|
2015
|
34.471,586
|
1.520,176
|
0,000
|
Sumber/Source : KPH Randublatung
Sebanyak 49,66 persen luas Kabupaten Blora merupakan hutan yang
terbagi atas tiga kesatuan administrasi Pemangkuan Hutan yaitu KPH Randublatung
KPH Cepu dan KPH Blora.
2.7
PERMASALAHAN UTAMA KONDISI EKONOMI DAERAH DAN SOLUSINYA
Secara
keseluruhan bahwa PDRB kabupaten Blora selalu mengalami peningkatan dari tahun
2011-2015, namun terdapat perbedaan tingkat PDRB antar kecamatan dengan jarak
yang cukup lebar. Dilihat dari laju pertumbuhan diatas, Kabupaten Blora
termasuk klasifikasi daerah yang masih bisa berkembang pesat, maka pembangunan,
pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Kabupaten Blora masih belum merata
seluruhnya. Dengan indikasi pembangunan ekonomi yang belum merata maka bisa
dikatakan adanya ketimpangan. Ketimpangan ini dapat terjadi karena perbedaan
pemopang utama perekonomian maupun perbedaan sektor basis di tiap kecamatan di
Kabupaten Blora
Terjadinya
ketimpangan di Kabupaten Blora merupakan suatu hal yang perlu dicermati.
Ketimpangan antar kecamatan disebabkan oleh adanya perbedaan sumber daya alam
dan perbedaan tingkat pembangunan yang akan membawa dampak perbedaan kemakmuran
antar kecamatan. Untuk itu perlu diadakan pengkajian atau analisis ketimpangan
regional agar dapat diketahui arah pertumbuhan ekonomi, dan perlu adanya
kebijakan yang berupa pemanfaatan sektor-sektor basis dari masing-masing
kecamatan untuk memajukan perekonomian daerah guna mengurangi ketimpangan yang
terjadi.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Terjadinya
ketimpangan di Kabupaten Blora merupakan suatu hal yang perlu dicermati.
Ketimpangan antar kecamatan disebabkan oleh adanya perbedaan sumber daya alam
dan perbedaan tingkat pembangunan yang akan membawa dampak perbedaan kemakmuran
antar kecamatan. Untuk itu perlu diadakan pengkajian atau analisis ketimpangan
regional agar dapat diketahui arah pertumbuhan ekonomi, dan perlu adanya
kebijakan yang berupa pemanfaatan sektor-sektor basis dari masing-masing
kecamatan untuk memajukan perekonomian daerah guna mengurangi ketimpangan yang
terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Pusat Statistik Kabupaten Bojonegoro
blorakab.bps.go.id
Komentar
Posting Komentar